Categories
Keuangan

30 Kesalahan dalam Mengelola Keuangan

Ternyata persoalan uang bukan masalah punya uang sedikit atau banyak tapi persoalan pengelolaan uang. Berikut saya share 29 alasan kenapa keuangan bisa hancuran-hancuran, padahal pemasukan terbilang lumayan bagi sebagian orang.

Mau tahu apa saja sebabnya?

Yuk silahkan dibaca:

1. Bisa jadi uang kurang berkah sehingga angus terus. Tanda uang yang berkah adalah selalu merasa dicukupkan.

2. Fokus pada uangnya bukan pengelolaannya.

3. Tidak memiliki budgeting keuangan, sehingga kap,anpun bisa membeli sesuatu tanpa perhitungan.

4. Belum bisa memisahkan antara kebutuhan dan keinginan, merasa semua prioritas.

5. Standar hidup dan gaya lebih dari penghasilan.

6. Merasa uang hasil jerih payah sendiri lalu memanjakan diri secara berlebihan.

7. Melihat uang adalah dewa segalanya, ada uang apapun dibeli lupa ada masa depan yang kudu diurus.

8. Nggak ada pencatatan dan nggak bisa koreksi uang jebol di sebelah mana.

9. Saat pendapatan lancar lalu bebas mengeluarkan uang karena merasa uang akan masuk lagi.

10. Tidak paham soal omzet dan HPP sehingga alokasi HPP tergerus untuk pengeluaran akibatnya kesulitan dana ketika mau produksi atau restock produk.

11. Uang hasil usaha tersedot untuk beban masa lalu baik itu utang bisnis atau utang pribadi.

12. Melakukan pembelian peralatan atau mesin yang mahal padahal masih bisa makloon atau sewa.

13. Tidak berani memangkas biaya pengeluaran karena berada di zona nyaman.

14. Tidak berani menolak pengajuan pengeluaran bisnis padahal masih bisa ditunda atau bahkan masih tidak perlu.

15. Berutang tanpa perhitungan matang dari mana alokasi untuk membayarnya.

16. Melakukan ekspansi atau perluasan pasar dengan set up cabang disaat cadangan kas belum siap.

17. Mengganti inventaris dengan yang baru padahal yang ada juga masih bisa digunakan.

18. Menambah karyawan baru padahal tim yang ada masih mampu handle pekerjaan jika dilakukan efektivitas bekerja.

19. Pengen keliatan ada padahal nggak ada.

20. Utang kartu kredit bayar minimal ekh tagihan jadi gila-gilaan (mending tutup kartu kredit).

21. Minim ilmu kelola uang tapi nggak mau belajar.

22. Pendapatan dihabiskan di masa kini nggak ada persiapan besok dan nanti di masa yang akan datang apalagi ditambah banyak cicilan.

23. Nabung dari sisa uang (malah kadang nggak bersisa) akibatnya ketika pendapatan jeblok, tak tahu duit mana yang akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan, akhirnya berutang meski bingung bayarnya darimana kan duitnya jeblok.

24. Sudah mah keuangan ancur, ancur juga kesadaran sedekahnya, menganggap paling nggak punya uang dan paling miskin bahkan untuk kasih pengemis di jalan sekadar 2.000 juga tak mau.

25. Udah tahu pendapatan nggak cukup untuk handle pengeluaran, ekh males pula update skill agar bisa nambah pemasukan alasannya nggak ada waktu!

26. Dikasih peluang penghasilan (padahal gratis) nggak dimanfaatkan maunya dikasih duit doang. Ah!

27. Kalau ada diskonan kalap dan akhirnya nyesel yang dibeli cuman jadi koleksi mata doang.

28. Ngerasa sayang ngeluarin uang buat nambah ilmu keuangan padahal jelas kelola uang berantakan.

29. Selalu mengulangi kesalahan yang sama: membeli keinginan bukan kebutuhan bahkan meski menyadari kondisi keuangan berantakan bahkan nekad ambil utangan.

30. Tidak melakukan intropeksi terhadap apa yang sudah dilakukan diatas. Meski hanya satu atau beberapa, intropeksi adalah penting untuk perbaikan diri.

Wah, sudah baca semuanya kan? Apa mungkin ada satu bahkan beberapa yang masih Anda lakukan hingga saat ini? JIka iya, yuk mulai benahi dan rasakan bahwa pengelolaan uang yang baik akan menghasilkan dampak yang baik, untuk kesehatan diri dan kantung Anda.

Categories
Marketing

Kata Murah dalam Marketing, Pentingkah ?

IwanWahyudi.com – Kata Murah dalam Marketing, Pentingkah ? Pembahasan ini mungkin penting bagi Anda yang saat ini sedang menjalankan marketing usaha dalam skala kecil dan menengah. Tapi saya pikir bagi perusahaan besar yang ingin mendapatkan revenue yang rutin setiap bulannya. Merupakan suatu kesyukuran jika jumlahnya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Memang saat ini ada banyak trik yang digunakan pemilik usaha dalam memasarkan produk dan jasanya. Ada yang menarget provit yang besar dalam setiap penjualan, ada juga yang menargetkan provit menengah, bahkan kecil. Itu semua sesuai selera dan pilihan.

Bagaimana dengan saya?

Saya pribadi untuk hal ini jujur masih menggunakan kata “murah.” Alasannya adalah dengan menyasar calon klien dengan berbabagai lapisan ini, niat saya adalah bisa berkolaborasi dengan sebanyak mungkin orang yang itu menjadi jalan rizki bagi mereka.

Mudahnya seperti ini. Jika saya menggunakan kata “mahal” dalam marketing saya, itu bisa, tentu ini tujuannya adalah hanya menjaring klien dari lapisan atas. Ada yang berpandangan bahwa “sekali kerja kerjakan yang menghasilkan provit yang besar saja.” Alhasil mereka mendapatkan provit yang besar setiap closing, tapi dengan jumlah klien yang sedikit. Tidak ada yang menyalahkan cara seperti itu, karena memang setiap orang punya pilihan sendiri.

Apakah pilihan saya tepat?

Bagi saya sendiri lumayan tepat, terutama saat menghadapi masa pendemi seperti ini, dimana budget untuk alokasi belanja klien selain untuk kebutuhan primer berkurang. Ini berlaku juga untuk perusahaan besar sekalipun.

Alhamdulillah dengan menyasar calon klien dengan berbagai lapisan, saat ini saya mampu berkolaborasi dengan beberapa orang penulis, desainer dan percetakan buku. Meski jumlahnya tidak selalu besar, setidaknya ini bisa menjadi tambahan penghasilan di masa serba berhemat saat ini.

Categories
Pembelajar

Pentingnya Ciri Khas bagi Pribadi Pembelajar

Saya kadang berselancar ke beberapa blog yang muncul di halaman pertama google. Manarik memang mengamati blog dengan keberagaman tampilan, penyajian hingga bahasa yang dikemas oleh pemiliknya. Ada yang saya amati konsisten bahkan semakin mendalami bidangnya, tapi tidak jarang ada yang berubah karena “terpengaruh” dengan apa yang sudah diterimanya.

Apa seseorang tidak boleh terpengaruh pada orang lain?

Boleh saja. Tapi kesannya aneh melihat seseorang dengan bahasa yang dulunya sopan, kini berubah, hanya karena terpengaruh dengan bahasa marketing kekinian.

Ada sesuatu yang dipaksakan sepertinya dalam sebuah proses pembelajaran yang dicerna apa adanya. Tanpa menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat kita.

Apakah gaya bahasa saya akan berubah? Insaa Allah tidak. Sejak awal memulia profesi menulis saya sudah punya role dalam berbahasa baik secara lisan dan tulisan. Alhamdulillah bahasa ini bisa diterima oleh banyak klien, baik personal hingga perusahaan. Meski memang saya akui untuk setiap bidang klien saya harus kerja keras untuk mempelajarinya.

Jujur, saya tidak merasa bahasa dan kemampuan menulis saya baik, tapi entah kenapa gaya menulis artikel saya kok plek ditiru oleh sebagian orang di blog mereka. Apalagi di cuplikan akhir setiap tulisan saya seperti ini,

“Artikel ini akan terus mengalami penambahan informasi dan data, karena itu jangan pernah bosan untuk berkunjung ke blog kami.”

Redaksi awalnya seperti itu, tapi setelah dimodifikasi akan berubah sesuai redaksi setiap blognya. Tidak masalah, orang boleh meniru saya, tapi saya tidak akan mudah meniru orang lain, karena saya seorang penulis kreatif. Hehehehe…. Peace.

Categories
Keluarga

25 November Bukan Hanya Hari Guru

Saya dan Istri, Hanum Mirrata

Hari Ini, 9 Tahun Lalu, Bukan Hanya Hari Guru ……

Jam 05.30 pagi, saya dan keluarga berangkat dari perumahan polisi di Polsek Pejompongan, Jakarta, untuk menuju ke Pondok Ungu Permai, Bekasi yang sejatinya akan melaksanakan akad nikah jam 08.00. Untuk hari yang sangat sakral ini saya harus rela mandi lebih dulu, jam 01.00, karena kami anggota sekeluarga kami lumayan banyak dan harus mandi mengantri di satu kamar mandi di perumahan seorang Om yang dinas di sana.

Ini juga atas perintah Tante saya, seorang istri Polisi,

“Eh, yang punya hajat mandi dulu ya. Kita yang ngantar setelahnya.”

Padahal seingat saya baru tidur jam 10 an malam. Tapi Ok lah memang saya yang punya hajat, maka saya mandi duluan.

Malam sebelumnya ada seorang saudara yang ditugaskan untuk survey lokasi untuk besok paginya kami rombongan ke Pondok Ungu. Saudara ini bilang jika untuk menuju ke lokasi melewati kawasan pabrik Aqua lebih sepi, dibanding lewat kawasan Harapan Indah, jalur yang biasanya saya lewati setiap kali berkunjung ke rumah calon mertua. Entah kenapa saya mengiyakan saja. Meskipun ini ternyata membawa “keseruan” saat hari H.

Selang waktu 2, 5 jam (dari jam 05.30 – 08.00) sebenarnya sangat cukup untuk menuju ke lokasi. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Karena jalur kawasan pabrik Aqua pada hari Senin, Rabu dan Jumat ada bongkar muatan banyak truk, karena memang kawasan pabrik.  Kami yang menikah di hari Jumat kena imbasnya.

Saya ingat saat itu jam 07.00 saya sudah berada di depan pabrik Aqua, tapi hingga hampir jam 09.30 kami masih tertahan, karena macetnya, iring-iringan mobil hanya bisa maju sekitar beberapa meter saja. Semua panik. Telpon dari calon Bapak mertua pun berbunyi setiap 1-2 menit sekali.

Ini nyata. Bukan sinetron di TV yang pengantin prianya terjebak macet di jalan, lalu datang disambut bak Pahlawan Perang. Saya mengalami sendiri. Untuk kelancaran akad nikah maka diputuskan dimana ada pangkalan ojek, saya dan 3 orang lainnya (ayah, paman dan seorang ulama Betawi) harus turun dan naik ojek ke lokasi.

Doa tak henti-hentinya saya panjatkan. Jangan ditanya gimana khawatirnya, apalagi sebelumnya seorang tante saya bilang,

“Wan jangan sampai akad nikah diundur besok seperti yang terjadi di Depok kemarin karena mempelai pria terlambat dan penghulunya harus menikahkan pasangan yang lain.”

Doa terus saya panjatkan sambil berharap laju 3 mobil yang membawa rombongan kami berjalan agak lancar beberapa meter ke depan. Ternyata doa terjawab. Tepat di depan kami di sisi kiri jalan ada gang kecil. Kami pun berempat turun, meski tidak tahu itu posisinya di sebelah mana dari lokasi yang akan kami tuju. Yang penting keluar dari kemacetan !

Kami berempat masing-masing mencari ojek dan menyebutkan alamat calon mertua. Di perjalanan perasaan saya ampur aduk; antara khawatir, senang dan kelucuan yang saat itu terjadi. Hanya dalam waktu kurang dari 15 menit kami sampai di lokasi.

Saya katakan saya sangat-sangat terbantu dengan adanya bapak-bapak ojek ini. Saya sampai di lokasi jam 9.45. Saat akan turun tukang ojek yang saya tumpai bertanya,

“Mas mau nikah dengan siapa?

“Hanum, Pak.”

“Oh….Mbak Hanum sudah mau nikah ya. Dulu masih SD Mbak nya saya yang antar.”

Subhanallah……saya terharu. Saya katakan kepadanya,  

“Terima kasih, Pak. Dulu Bapak banyak membantu istri saya saat masih sekolah. Sekarang Bapak sangat sangat membantu kami saat akan menikah.”

Saya lanjutkan langkah saya ke depan rumah calon istri yang sudah dihias sedemikian rupa. Di depan rumah calon Ibu mertua saya menyambut dengan senyum hangatnya sambil menepuk pundak saya dan mengalungkan untaian bunga melati, tanda akan dilangsungkan prosesi akad nikah. Beliau mengatakan,

“Kok sampai telat sih, Wan?

“Iya, Bu maaf,. tim survey semalam salah pilih jalur.

Proses nikah dilangsungkan pada hari Jumat tanggal 25 November 2011 jam 09.00. terlambat satu jam dari rencana, tapi Allah masih izinkan kami untuk melangsungkan acara sakral pernikahan kami di hari itu juga.

Kini, sudah 9 tahun kami menjalaninya. Jika hari ini ada yang memperingati hari guru, maka kami juga memperingatinya sambil mengenang hari pernikahan kami. Saya dan istri sejatinya adalah pribadi guru hasil didikan orang tua dan almamater kami, Gontor.

Untuk istriku terima kasih yang telah menemani dalam suka dan duka selama 9 tahun. Alhamdulillah untuk 9 tahun yang kita lewati, yang Allah anugerahi dengan 3 jagoan yang lucu dan cerdas, semoga anak-anak kita kelak bisa menjadi tabungan amal bagi orang tua menuju surge. Amiin.

Maaf jika terlau panjang, karena minimal menulis per artikel saat ini adalah 700 kata. Hmm…….

Categories
Keluarga

Radio untuk Pembunuh Rasa Sepi Ayah Tercinta

Seorang anak diperantauan menelpon ibunya di tanah kelahiran. Di ujung telpon sang ibu mengatakan jika saat ini suaminya, ayah anak ini, sudah dalam tahap sering merasa kesepian. Ya, merasa sepi bisa terjadi bagi sebagian orang yang sudah berusia lanjut. Maka biasanya pelariannya adalah alat-alat elektronik, seperti radio, televisi dan sejenisnya yang banyak memberikan informasi tentang sekeliling kita.

Sang anak yang penghasilannya pas-pasan, apalagi saat ini dampak dari pandemi corona,  bulan ini sudah mengirim sejumlah uang. Tapi dari dalam hatinya masih punya keinginan yang kuat untuk membelikan ayahnya radio, karena yang biasa dipakai sudah rusak karena sering dipakai.

Sore hari. Hujan rintik-rintik, suasana yang mendukung untuk mengenang sekitar belajaan tahun yang lalu, saat ia masih mondok. Saat itu di pondok sedang kedatangan tamu, jadi semua santri dikerahkan untuk menyambut tamu. Karena padatnya acara pondok saat itu, maka sang ayah hanya bisa sekali menemui anaknya. Padahal ia harus menempuk jarak ratusan km dalam waktu tidak kurang dari 12 jam dengan menggunakan bis umum.

Tidak bisa digambarkan bagaimana letihnya. Tapi setiap wali santri tetap bersemangat menjalaninya, karena menjumpai anak yang sedang menuntut ilmu agama adalah kebahagiaan terbesar sebagai orang tua. Padahal saat itu ekonomi keluarga sedang sulit-sulitnya, karena toko kelontong miliknya sudah kalah jauh bersaing dengan toko-toko lainnya dengan modal yang lebih besar.

Sang anak yang sangat memperhatikan kondisi ayahnya, merasa aneh. Karena tampak dari cara berjalannya, sang ayah agak diseret. Tapi ia enggan bertanya, ia hanya ingin memperhatikan kondisi sang ayah saat mengobrol dengannya dari dekat. Hingga suatu waktu, ia melihat ada luka di kepala ayahnya. Baru ia memberanikan diri untuk bertanya, sembari menahan rasa iba yang dalam,

“Bapak kenapa kepalanya luka, dan sepertinya juga jalannya tidak seperti biasa?”

“Nggak, papa kok, ini hanya luka biasa.”

“Kenapa, Pak. Saya hanya ingin tahu.”

“Beberapa hari yang lalu, Bapak kecelakaan, ditabrak orang dari belakang saat mau ke subuhan. Kepala, tangan dan kaki sebelah kanan luka. Tapi karena Bu Lek mu sudah mendapatkan yang kamu minta (kamus munjid), maka Bapak niat mau langsung antar kesini.”

Sang anak tidak bisa berkata-kata, hanya ada genangan air mata yang ia tahan untuk tidak keluar. Ia berusaha menahannya, tapi tak sanggup, hingga air matanya pun menetes deras. Dengan lirihnya ia berkata dengan suara pelan kepada ayahnya.

“Bapak baru kecelakaan, kenapa langsung bawa kamus seberat ini kemari. Saat di jalan tadi Bapak bagaimana membawanya. Padahal saya lihat, untuk berjalan saja, Bapak agak kesulitan…..”

“Gak, apa-apa, Nak. Dengan ini Bapak bisa lebih semangat. Gak ada yang lebih menyenangkan Bapak selain menemui kamu yang sedang digembleng pendidikan agama disini.”

Entah berapa menit berlalu, sang anak hanya terdiam. Tapi dari dalam hatinya ia bergumam tentang pelajaran hidup yang diajarkan ayah kepadanya. Bahwa sesulit apapun kondisinya, seorang ayah akan siap berkorban untuk ayahnya. Tidak ada perhitungan untung rugi dan sebagainya.

Kini, sanga ayah sedang sakit di kota kelahirannya. Sang anak yang ada diperantauan hanya bisa mendapatkan kabar tentang orang tua dan keluarganya dari telpon sang ibu. Karena ayahnya yang hebat, yang rela berkorban apapun untuk dia saat ia masih kecil hingga mondok tidak punya hp. Beliau hanya sering menghabiskan waktunya dengan mendengarkan radio, untuk sekedar tahu kabar terkini di kotanya.

Karena itu tanpa ragu sang anak akan mengirim lagi uang kepada orang tuanya, untuk dibelikan radio seperti yang ayahnya inginkan. Hanya itu cara sang anak bisa sedikit menghibur orang tuanya. Karena sebesar apapun yang ia berikan tidak akan cukup untuk mengganti apa yang telah dikorbankan orang tuanya selama ini.

Categories
Pembelajar

20 Hal yang Kebanyakan Manusia Terlambat Belajar dalam Hidup

Apa saja hal-hal yang biasanya terlambat dipelajari oleh manusia? Untuk menjawabnya Anda harus jujur dalam diri atau setidaknya membaca artikel yang saya tulis ini. Coba baca dan resapi, mungkin dari sekian point ada beberapa yang membuat Anda tersenyum sendiri sembari berkata dalam hati,

“Oh iya benar juga ya.” He…..

Ok, apa saja 20 Hal yang Kebanyakan Manusia Terlambat Belajar dalam Hidup itu?

Berikut saya tuliskan,

  1. Kebanyakan orang takut menggunakan imajinasi mereka
  2. Menganggap bahwa impian kita tidak begitu penting bagi orang lain
  3. Teman adalah relative, semua bisa berubah
  4. Potensi diri meningkat seiring bertambahnya usia
  5. Spontanitas adalah awal kreativitas
  6. “menyentuh” alam itu penting
  7. Kebanyakan orang melakukan apa yang meraka tidak sukai
  8. Banyak yang berhenti membaa setelah kuliah
  9. Orang lebih banyak bicara daripada mendengarkan
  10. Kreativitas membutuhkan latihan
  11. Kesuksesan itu relative bagi setiap orang
  12. Jangan salahkan orangtua Anda
  13. Hadapi diri Anda sendiri di pagi hari
  14. Sesuatu yang lebih berasal dari hati
  15. Semakin baik mengenal diri, semakin baik potensi
  16. Setiap orang yang meragukan Anda akan kembali
  17. Anda adalah cerminan 5 orang terdekat Anda
  18. Tentukan apa yang sesuai untuk Anda
  19. Segala sesuatu ada korelasinya
  20. Jadilah diri Anda sendiri

Untuk pembahasan detailnya menyusul ya. Karena artikel ini ditulis sudah jam 23.00. besok saya sambung lagi supaya bisa memberi gambaran yang jelas bagi Anda.

Categories
Pembelajar

Tetap Optimis di Tengah Pandemi

Di awal tahun 2020 mungkin bukan saya, tapi banyak orang yang sangat bersemangat dan yakin bahwa kondisi akan baik baik saja…

Rencana, goal, mimpi-mimpi sudah ditetapkan dengan penuh optimis. Ya, semua akan berjalan baik-baik saja seperti tahun-tahun sebelumnya.

Semua orang berpikir bahwa perjuangan yang telah dilalui tahun sebelumnya sangatlah menyenangkan. Walau tidak mudah tetapi terasa progressnya. Situasi di setiap negara juga menunjukkan hal yang positif. Di Indonesia, setelah pemilu, ekonomi Indonesia cukup baik, salahsatu buktinya travelling berkembang pesat termasuk biaya tiket dan hotel yang terjangkau.

Bagi sebagian orang yang memang suka cari tantangan tempat baru, tentu faktor budget menjadi sangat terbantu.

Selanjutnya, Bulan Februari datang, situasi berubah drastis.Dunia mulai ketakutan dengan adanya sebuah virus di suatu belahan dunia.

Sebulan berselang, Maret, di Indonesia pun ikut mencekam. Semua kegiatan dibatasi, hingga bukan hanya membatasi gerak, tapi juga penghasilan sebagian besar orang di seluruh dunia.

Katanya ini kejadian 100 tahun. Tentu kita akan sulit menemukan referensi bagaimana menghadapi situasi pandemi seperti ini. Kita semua tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tentu ini adalah suatu tantangan, yakin bahwa selalu ada kesempatan untuk belajar dan terus berkembang

Bersyukur bagu mereka yang punya banyak teman, sahabat, guru yang luar biasa untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, yang mengarahkan diri kita untuk selalu positif.

Entah sampai kapan kondisi ini akan berakhir, yang pasti untuk sekedar bisa survive bahkan berkembang, saat ini dibutuhkan perjuangan keras. Tapi sebagai orang yang terus berpikiran positif, sebenarnya ada beberapa saran yang bisa kita jadikan pelajaran kehidupan menghadapi kondisi saat ini:
.

𝟏. Ketahui Siapa Diri Kita
Berikan waktu pada diri sendiri untuk mengenali diri lebih baik lagi. Cari tahu siapa diri kita, mau kemana, mengapa itu semua penting bagi diri kita?
.

𝟐. Carilah mentor dan grup yang saling mendukung
carilah orang yang akan memaksa diri kita untuk naik kelas, untuk berbagi pengalaman. Tentu tidak mudah menemukan mereka, diperlukan pengabdian dan tidak egois pada diri sendiri.
.

𝟑. Implementasilan Apa yang Anda Pelajari
Kini banyak sekali ilmu ilmu yang bisa kita akses dengan cepat dan mudah di internet. Jangan sampai lupa untuk mempraktekkannya. Jangan kita terlena dengan kata-kata, tapi tidak melakukan apa-apa. Ingat, waktu kita sangat terbatas.
.

𝟒. Rutin Lebih Baik dari Sempurna
Saya sering kali merasa tidak pede, karena selalu ingin sempurna. Tapi kesempurnaan adalah tembok dari kesuksesan. Mulailah dari hal-hal yang kecil, terus perbaiki dan evaluasi.
.

𝟓. Bekerjalah Sesuai Mindset
Pertumbuhan diri kita harus dimulai dari hati. Fokuslah pada hal-hal dalam diri kita untuk menjadi positif. Mulai dengan doa dan niat yang baik, hindari drama di social media, tutup semua celah yang membuat toxic perasaan dan pikiran kita.

Semoga langkah-langkah ini akan membuat perjalanan kita lebih mudah dan dapat melalui masa ini dengan gemilang.

Waktu terbaik untuk memulai adalah kemarin,
waktu terbaik berikutnya adalah saat ini juga !

Categories
Bisnis

Ingin Menjadi Apa Anda dalam Bisnis yang Dimiliki?

IwanWahyudi.com – Ingin Menjadi Apa Anda dalam Bisnis yang Dimiliki?. Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada Anda yang punya atau sebagai pendiri sebuah bisnis, apakah jawaban Anda? Anda bebas menjawabnya. Tapi jawaban Anda akan menentukan seberapa dalam skill yang harus Anda miliki.

Jika pertanyaan itu diberikan pada saya pribadi dengan bisnis yang saya jalankan saat ini, maka jawaban saya adalah sebagai playmaker. Ya, saya adalah orang yang mengusahakan sebuah proyek penulisan ada; mulai mencari klien, negosiasi fee, menulisnya sendiri (atau mencari penulis pendamping / tim ahli), mencari desainer (untuk lay out dank over), hingga mencari peretakan dengan biaya bersaing dengan kualitas terbaik.

Jadi posisi saya disini sebagai pemain yang memberikan umpan kepada pemain-pemain yang berpotensi mencetak gol dengan baik.

Ini saya lakukan mulai proyek dengan skala kecil hingga menengah (doakan semoga ke depan bisa mendapatkan projek besar. Amiin).

Mengapa ini tetap saya lakukan sendiri, meski mungkin sebenarnya saya bisa jika hanya mendapatkan provitnya saya?

Karena saya sangat mencintai profesi saya sebagai penulis dan self publisher.

Dengan saya mengawal setiap tahap proses finishing sebuah buku, saya juga bisa menilai setiap kinerja tim sehingga untuk proses kerja sama proyek-proyek selanjutnya bisa memakai tim yang mana menyesuaikan dengan tingkat kesulitan proyek penulisan yang dikerjakan.

Ini saya lakukan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada klien, dengan biaya yang bersaing. Harapannya tentu semoga mereka puas dan menjadi pelanggan setia kami dengan proyek-proyek yang lainnya.

Categories
Blogging

Blog dengan Peringkat Tinggi Alexa, Penting kah?

Sebenarnya banyak saya tanyakan pada para blogger atau di forum blogger juga, pentingkah peringkat Alexa yang ramping. Karena saat ini Alhamdulillah saya sudah ada 7 blog dengan peringkat > 1.000.000 ranking alexa.

Apakah ranking Alexa berpengaruh bagi SEO?

Bisa iya, bisa juga tidak. Tapi jujur saya pribadi lebih yakin membaca artikel dari blog/ web yang ranking Alexa nya lebih ramping. Kenapa ?

Biasanya tema dari blog itu lebih spesifik. Ya, harus diakui bahwa yang menjadi salahsatu factor sebuah blog punya ranking bagus di Alexa adalah bahasannya spesifik. Seperti misalnya blog ini. tidak campur aduk yang kadang membuat pengunjung bingung, ini blog spesifikasinya kemana?

Makin ramping, makin lincah

Ya, dengan makin rampingnya ranking sebuah blog di Alexa harapan saya blog tersebut makin lincah untuk muncul di berbagai kata kunci sesuai nichenya. Harapannya tentu dengan banyak tampil di mesin pencari maka semakin banyak memberi manfaat, selain juga tidak menutup kemungkinan untuk menambah penghasilan dengan monetisasi apapun.

Saya sadar saat ini blog saya jumlahnya masih terbilang banyak, ada 10 blog. Ini juga sebenarnya sudah dilakukan seleksi dari yang sebelumnya berjumlah 20 an lebih. Dengan banyaknya blog ini berdampak pada jarangnya update setiap blog saya. Maka ke depannya selain sudah punya ranking Alexa yan bagus, saya usahakan untuk lebih intens update artikel lagi. Minimal 1 minggu sekali untuk setiap blognya.

Semoga apa yang saya niatkan ini bernila ibadah, jika apa-apa yang saya niatkan sejak awal bahwa saya ngeblog adalah untuk berbagi ilmu, pengalaman dan informasi, meski saya sadar mungkin belum banyak.

Silahkan rutin berkunjung ke blog ini. karena meski ini adalah blog pribadi,saya akan lebih rutin posting keseharia saya bekerja di rumah di blog ini.

Semoga bermanfaat.