Categories
Keluarga

25 November Bukan Hanya Hari Guru

Saya dan Istri, Hanum Mirrata

Hari Ini, 9 Tahun Lalu, Bukan Hanya Hari Guru ……

Jam 05.30 pagi, saya dan keluarga berangkat dari perumahan polisi di Polsek Pejompongan, Jakarta, untuk menuju ke Pondok Ungu Permai, Bekasi yang sejatinya akan melaksanakan akad nikah jam 08.00. Untuk hari yang sangat sakral ini saya harus rela mandi lebih dulu, jam 01.00, karena kami anggota sekeluarga kami lumayan banyak dan harus mandi mengantri di satu kamar mandi di perumahan seorang Om yang dinas di sana.

Ini juga atas perintah Tante saya, seorang istri Polisi,

“Eh, yang punya hajat mandi dulu ya. Kita yang ngantar setelahnya.”

Padahal seingat saya baru tidur jam 10 an malam. Tapi Ok lah memang saya yang punya hajat, maka saya mandi duluan.

Malam sebelumnya ada seorang saudara yang ditugaskan untuk survey lokasi untuk besok paginya kami rombongan ke Pondok Ungu. Saudara ini bilang jika untuk menuju ke lokasi melewati kawasan pabrik Aqua lebih sepi, dibanding lewat kawasan Harapan Indah, jalur yang biasanya saya lewati setiap kali berkunjung ke rumah calon mertua. Entah kenapa saya mengiyakan saja. Meskipun ini ternyata membawa “keseruan” saat hari H.

Selang waktu 2, 5 jam (dari jam 05.30 – 08.00) sebenarnya sangat cukup untuk menuju ke lokasi. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Karena jalur kawasan pabrik Aqua pada hari Senin, Rabu dan Jumat ada bongkar muatan banyak truk, karena memang kawasan pabrik.  Kami yang menikah di hari Jumat kena imbasnya.

Saya ingat saat itu jam 07.00 saya sudah berada di depan pabrik Aqua, tapi hingga hampir jam 09.30 kami masih tertahan, karena macetnya, iring-iringan mobil hanya bisa maju sekitar beberapa meter saja. Semua panik. Telpon dari calon Bapak mertua pun berbunyi setiap 1-2 menit sekali.

Ini nyata. Bukan sinetron di TV yang pengantin prianya terjebak macet di jalan, lalu datang disambut bak Pahlawan Perang. Saya mengalami sendiri. Untuk kelancaran akad nikah maka diputuskan dimana ada pangkalan ojek, saya dan 3 orang lainnya (ayah, paman dan seorang ulama Betawi) harus turun dan naik ojek ke lokasi.

Doa tak henti-hentinya saya panjatkan. Jangan ditanya gimana khawatirnya, apalagi sebelumnya seorang tante saya bilang,

“Wan jangan sampai akad nikah diundur besok seperti yang terjadi di Depok kemarin karena mempelai pria terlambat dan penghulunya harus menikahkan pasangan yang lain.”

Doa terus saya panjatkan sambil berharap laju 3 mobil yang membawa rombongan kami berjalan agak lancar beberapa meter ke depan. Ternyata doa terjawab. Tepat di depan kami di sisi kiri jalan ada gang kecil. Kami pun berempat turun, meski tidak tahu itu posisinya di sebelah mana dari lokasi yang akan kami tuju. Yang penting keluar dari kemacetan !

Kami berempat masing-masing mencari ojek dan menyebutkan alamat calon mertua. Di perjalanan perasaan saya ampur aduk; antara khawatir, senang dan kelucuan yang saat itu terjadi. Hanya dalam waktu kurang dari 15 menit kami sampai di lokasi.

Saya katakan saya sangat-sangat terbantu dengan adanya bapak-bapak ojek ini. Saya sampai di lokasi jam 9.45. Saat akan turun tukang ojek yang saya tumpai bertanya,

“Mas mau nikah dengan siapa?

“Hanum, Pak.”

“Oh….Mbak Hanum sudah mau nikah ya. Dulu masih SD Mbak nya saya yang antar.”

Subhanallah……saya terharu. Saya katakan kepadanya,  

“Terima kasih, Pak. Dulu Bapak banyak membantu istri saya saat masih sekolah. Sekarang Bapak sangat sangat membantu kami saat akan menikah.”

Saya lanjutkan langkah saya ke depan rumah calon istri yang sudah dihias sedemikian rupa. Di depan rumah calon Ibu mertua saya menyambut dengan senyum hangatnya sambil menepuk pundak saya dan mengalungkan untaian bunga melati, tanda akan dilangsungkan prosesi akad nikah. Beliau mengatakan,

“Kok sampai telat sih, Wan?

“Iya, Bu maaf,. tim survey semalam salah pilih jalur.

Proses nikah dilangsungkan pada hari Jumat tanggal 25 November 2011 jam 09.00. terlambat satu jam dari rencana, tapi Allah masih izinkan kami untuk melangsungkan acara sakral pernikahan kami di hari itu juga.

Kini, sudah 9 tahun kami menjalaninya. Jika hari ini ada yang memperingati hari guru, maka kami juga memperingatinya sambil mengenang hari pernikahan kami. Saya dan istri sejatinya adalah pribadi guru hasil didikan orang tua dan almamater kami, Gontor.

Untuk istriku terima kasih yang telah menemani dalam suka dan duka selama 9 tahun. Alhamdulillah untuk 9 tahun yang kita lewati, yang Allah anugerahi dengan 3 jagoan yang lucu dan cerdas, semoga anak-anak kita kelak bisa menjadi tabungan amal bagi orang tua menuju surge. Amiin.

Maaf jika terlau panjang, karena minimal menulis per artikel saat ini adalah 700 kata. Hmm…….

BERGABUNG BERSAMA KAMI
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Bergabunglah dengan lebih dari 3.000 orang yang telah menerima email rutin dari saya, dan pelajari cara menulis kreatif di sosial media, artikel blog dan buku. Siapa tahu ini bisa menjadi penghasilan sampingan bahkan utama Anda
Email Anda aman bersama kami

By Iwan Wahyudi

Ini adalah blog pribadi Iwan Wahyudi. Seorang Penulis, blogger dan self publisher dengan puluhan karya untuk personal dan perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *