Hidup Sehat di Desa. Beginilah Cara Kami

Hidup Sehat di Desa. Beginilah Cara Kami

IwanWahyudi.com – Hidup Sehat di Pedesaan. Hidup sehat bisa jadi impian bagi banyak orang. Tapi tidak semua benar-benar ingin mewujudkannya. Ada yang mungkin masih ingin berkutat dengan berbagai kesibukan, sehingga mengabaikain kesehatan itu sendiri. Dalam artikel ini saya akan berbagi bagaimana kami berusaha hidup sehat dengan biaya yang hemat dengan kami tinggal di pedesaan.

2 tahun yang lalu, kami masih tinggal di Bekasi. Semua orang pasti tahu dengan salah satu kota satelit penyangga Ibukota ini. Dengan jarak yang relative dekat dari Jakarta, Bekasi dengan posisi yang dekat dengan pesisir, membuat hawanya panas. Ditambah denngan daya tariknya sebagai kota terdekat dari Jakarta, membuat banyak orang berlomba untuk tinggal di dalamnya. Intinya, bagi mereka yang kerja di Jakarta, punya rumah di Bekasi adalah pilihan yang tepat.

Saya pun dulu merasakannya, untuk ke Jakarta cukup ditempuh dengan 30 menit naik motor dan selanjutnya disambung dengan KRL dan ojek online ke tempat bertemu klien. Semudah itu memang menggunakan moda transportasi jika kita tinggal di Jakarta. Tapi kemudahan ini tentu harus dibayar dengan kondisi lingkungan yang relative panas, dan berbagai pendukung sarana yang mulai kurang memadai.

Ya, di Bekasi yang sudah padat penduduknya, harus menggunakan air PAM untuk berbagai keperluan. Belum lagi polusi udaranya yang kian hari semakin parah. Ditambah saat hujan sering terjadi banjir.

Dengan pertimbangan inilah maka saya punya keinginan untuk memulai hidup lebih sehat. Salahsatu caranya adalah dengan hijrah dari Bekasi ke Kota Bogor. Itupun karena adanya uang untuk membeli rumah yang tidak banyak, maka saya dapatkan di Bogor desa, bukan di Kota sebagaimana saat kami tinggal di Bekasi.

Awalnya memang berat memulai segalanya disini. Bayangkan, kami adalah keluarga pertama yang menempati perumahan ini. Benar benar sendiri dengan posisi di ujung belakang berhadapan dengan kebun yang terbentang luas. Pagi sampai sore bolehlah suasananya oke, tapi malam hari agak ngeri-ngeri sedap juga tinggal disini.

cara hidup sehat di pedesaan

Tapi perasaan itu bertahan hanya seminggu. Setelah itu kami sudah terbiasa tidur di rumah yang terbilang pedasaan.

Saya pribadi sangat bersyukur tinggal di rumah sekarang ini. Untuk seorang penulis seperti saya, suasana disini sangat cocok untuk menulis. Hening dan sesekali ditemani kicauan burung yang menceritakan tentang kebebasannya terbang kesana kemari tanpa kekangan kurungan dan makan mewah seperti sebagian saudara mereka yang sudah terpenjara.

Tak terasa sudah sudah 2 tahun tinggal disini. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Kami sangat menikmati setiap detik dalam kehidupan kami.

Cara Sehat Hidup di Desa Versi Keluarga Kami

Bayangkan nikmatnya, bangun tidur sholat berjamaah di musholla yang berada di belakang rumah. Selanjutnya saya baca Qur’an dan dilanjutkan menulis sekitar 1,5 jam hingga pukul 06.30. setelah itu bersih-bersih rumah dan mengantarkan Kakak berangkat sekolah. Sepulang dari mengantar Kakak, saya menidurkan si Dede, yang saat ini sukanya dijemur dulu, terkena sinar matahari, baru ia langsung tertidur.

Selanjutnya saya bisa menulis lagi sekitar 1,5 jam karena saat itu si Abang pulang sekolah. Sebelum dhuhur bisa menulis sekitar 1 jam hingga jam makan siang. Setelah makan siang sebelum tidur siang bisa di depan lapto sekitar 2 jam. Tidur siang ada di keluarga kami, dan kami mewajibkannya untuk anak-anak, karena mereka masih di masa pertumbuhan, dimana tidur siang ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan badan dan otaknya.

Banging tidur setelah Ashar lanjut mengantar Kakak dan Abang mengaji hingga jam 5 sore. Setelah itu kami berkumpul di depan rumah sambil menikmati suasana di depan kebun hingga menjelang magrib.

Malamnya anak-anak kami wajibkan tidur paling lambat jam 9 malam. Tapi biasanya sebelum itu mereka juga sudah tidur, sedangkan saya lanjut lagi buka laptop sampai jam 10 atau 11.

Alhamdulillah sambil membersamai istri menjaga anak-anak saya masih bisa bekerja efektif sekitar 7 – 8 jam / hari. Ini sudah sangat mencukupi untuk seorang penulis seperti saya. Dari alokasi waktu terebut saya bisa menulis, membaca dan sesekali melakukan marketing online dengan aset digital yang sudah saya miliki.

hidup sehat di desa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.