Pesantren dan Kaderisasi

Pesantren dan Kaderisasi

Menarik untuk membahas tentang pesantren. Apalagi di Indonesia jumlah pesantren sangat banyak dengan berbagai corak dan jenisnya. Tapi pada artikel kali ini saya tidak akan membahas tentang itu, yang akan saya bahas adalah tentang kaderisasi. Satu kata yang banyak dilupakan oleh para pendiri pondok di Indonesia. Sebagai pembanding kita juga akan belajar bagaimana tentang kaderisasi di Pesantren Gontor.

Pesantren dan kaderisasi sebenarnya adalah dua mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Karena jika hanya fokus pada berkembangnya pesantren, berapa sih usia manusia saat ini ? Rata-rata 60 tahun. itupun di usia tersebut sudah berkurang kinerjanya. Tidak bisa menghandle semua keperluan pesantren dari hulu ke hilir sebagaimana ia masih muda.

Maka sebuah pesantren yang hanya fokus pada perkembangannya saja, tanpa memperhatikan kaderisasi selanjutnya, maka siap-siaplah akan “runtuh” pada generasi kedua. Runtuh disini dalam artian nilai-nilai dan falsafahnya. Bukan bangunannya. Tapi bahkan ada juga yang gedungnya masih megah tapi sudah enggan di datangi oleh santri. Entah apa yang menyebabkan, pastinya para orang tua akan berpikir untuk memasukkan anaknya ke sebuah lembaga pendidikan berasrama seperti pesantren.

Runtuhnya nilai-nilai dan falsafah pesantren ini bukan karena tidak adanya generasi penerus yang mempunyai latarbelakang pendidikan agama, tapi lebih pada kurangnya penanaman tentang orientasi hidup oleh pendiri kepada anak-anaknya. Ya, ada kesenjangan orientasi pendidikan dari pendiri sebagai generasi pertama pemimpin pesantren dengan anak-anak mereka.

Yang banyak terjadi memang para pendiri biasanya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk pengembangan pesantren, tanpa memperhatikan kaderisasi selanjutnya. Kurangnya waktu untuk berinteraksi dengan generasi penerus untuk menularkan nilai-nilai yang sejak awal menjadi falsafah pesantren. Ini terjadi bukan hanya di puluhan dan ratusan pesantren, tapi bisa jadi hampir di semua pesantren di Indonesia.

Jika sudah seperti ini, kemanakah belar tentang kaderisasi ?

Belajarlah pada Gontor. Di Gontor kaderisasinya sudah tersistem. Bukan hanya kaderisasi pendiri kepada anak keturunannnya, tapi di setiap pos yang ada di Gontor, kaderisasi itu dijalankan setiap hari.

Sebagai gambarannya adalah santri yang masuk di Gontor yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang kepemimpinan dalam 4 – 6 tahun maka ia sudah bisa memimpin. Sungguh latihan yang ada di Gontor dilakukan dengan sistematis dan terukur, sehingga santri bisa mencernanya dengan baik. Jadi jangankan untuk menjadi pemimpin pondok, untuk menjadi pengurus asrama yang tugasnya mengawasi langsung santri yang tingkatannya ada dibawahnya, terus dilakukan kaderisasi setiap tahunnya.

Andai saja setiap pesantren bisa menerapkan ini, maka tidak ada cerita klise sebagaimana yang banyak tersebar di masyarakat yang mengatakan, “Pondok itu dulu bagus dan berkualitas pendidikannya, tapi setelah dilanjutkan oleh anaknya, jadi seperti sekarang ini.”

Ini sebenarnya adalah tugas kita untuk menjadikan kaderisasi di pesantren bisa terus berjalan bahkan tersistem, sebagaimana yang telah dilaksanakan di Gontor.

Leave a Reply

Your email address will not be published.