Categories
Keluarga

Radio untuk Pembunuh Rasa Sepi Ayah Tercinta

Seorang anak diperantauan menelpon ibunya di tanah kelahiran. Di ujung telpon sang ibu mengatakan jika saat ini suaminya, ayah anak ini, sudah dalam tahap sering merasa kesepian. Ya, merasa sepi bisa terjadi bagi sebagian orang yang sudah berusia lanjut. Maka biasanya pelariannya adalah alat-alat elektronik, seperti radio, televisi dan sejenisnya yang banyak memberikan informasi tentang sekeliling kita.

Sang anak yang penghasilannya pas-pasan, apalagi saat ini dampak dari pandemi corona,  bulan ini sudah mengirim sejumlah uang. Tapi dari dalam hatinya masih punya keinginan yang kuat untuk membelikan ayahnya radio, karena yang biasa dipakai sudah rusak karena sering dipakai.

Sore hari. Hujan rintik-rintik, suasana yang mendukung untuk mengenang sekitar belajaan tahun yang lalu, saat ia masih mondok. Saat itu di pondok sedang kedatangan tamu, jadi semua santri dikerahkan untuk menyambut tamu. Karena padatnya acara pondok saat itu, maka sang ayah hanya bisa sekali menemui anaknya. Padahal ia harus menempuk jarak ratusan km dalam waktu tidak kurang dari 12 jam dengan menggunakan bis umum.

Tidak bisa digambarkan bagaimana letihnya. Tapi setiap wali santri tetap bersemangat menjalaninya, karena menjumpai anak yang sedang menuntut ilmu agama adalah kebahagiaan terbesar sebagai orang tua. Padahal saat itu ekonomi keluarga sedang sulit-sulitnya, karena toko kelontong miliknya sudah kalah jauh bersaing dengan toko-toko lainnya dengan modal yang lebih besar.

Sang anak yang sangat memperhatikan kondisi ayahnya, merasa aneh. Karena tampak dari cara berjalannya, sang ayah agak diseret. Tapi ia enggan bertanya, ia hanya ingin memperhatikan kondisi sang ayah saat mengobrol dengannya dari dekat. Hingga suatu waktu, ia melihat ada luka di kepala ayahnya. Baru ia memberanikan diri untuk bertanya, sembari menahan rasa iba yang dalam,

“Bapak kenapa kepalanya luka, dan sepertinya juga jalannya tidak seperti biasa?”

“Nggak, papa kok, ini hanya luka biasa.”

“Kenapa, Pak. Saya hanya ingin tahu.”

“Beberapa hari yang lalu, Bapak kecelakaan, ditabrak orang dari belakang saat mau ke subuhan. Kepala, tangan dan kaki sebelah kanan luka. Tapi karena Bu Lek mu sudah mendapatkan yang kamu minta (kamus munjid), maka Bapak niat mau langsung antar kesini.”

Sang anak tidak bisa berkata-kata, hanya ada genangan air mata yang ia tahan untuk tidak keluar. Ia berusaha menahannya, tapi tak sanggup, hingga air matanya pun menetes deras. Dengan lirihnya ia berkata dengan suara pelan kepada ayahnya.

“Bapak baru kecelakaan, kenapa langsung bawa kamus seberat ini kemari. Saat di jalan tadi Bapak bagaimana membawanya. Padahal saya lihat, untuk berjalan saja, Bapak agak kesulitan…..”

“Gak, apa-apa, Nak. Dengan ini Bapak bisa lebih semangat. Gak ada yang lebih menyenangkan Bapak selain menemui kamu yang sedang digembleng pendidikan agama disini.”

Entah berapa menit berlalu, sang anak hanya terdiam. Tapi dari dalam hatinya ia bergumam tentang pelajaran hidup yang diajarkan ayah kepadanya. Bahwa sesulit apapun kondisinya, seorang ayah akan siap berkorban untuk ayahnya. Tidak ada perhitungan untung rugi dan sebagainya.

Kini, sanga ayah sedang sakit di kota kelahirannya. Sang anak yang ada diperantauan hanya bisa mendapatkan kabar tentang orang tua dan keluarganya dari telpon sang ibu. Karena ayahnya yang hebat, yang rela berkorban apapun untuk dia saat ia masih kecil hingga mondok tidak punya hp. Beliau hanya sering menghabiskan waktunya dengan mendengarkan radio, untuk sekedar tahu kabar terkini di kotanya.

Karena itu tanpa ragu sang anak akan mengirim lagi uang kepada orang tuanya, untuk dibelikan radio seperti yang ayahnya inginkan. Hanya itu cara sang anak bisa sedikit menghibur orang tuanya. Karena sebesar apapun yang ia berikan tidak akan cukup untuk mengganti apa yang telah dikorbankan orang tuanya selama ini.

BERGABUNG BERSAMA KAMI
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Bergabunglah dengan lebih dari 3.000 orang yang telah menerima email rutin dari saya, dan pelajari cara menulis kreatif di sosial media, artikel blog dan buku. Siapa tahu ini bisa menjadi penghasilan sampingan bahkan utama Anda
Email Anda aman bersama kami

By Iwan Wahyudi

Ini adalah blog pribadi Iwan Wahyudi. Seorang Penulis, blogger dan self publisher dengan puluhan karya untuk personal dan perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *